Selamat datang buah hati yang dinanti


Quick news, personil kami bertambah satu. Namanya Aruna. Kini, kurang lebih 6 bulan kami menjalani peran baru sebagai seorang Ibu & Bapak.

Aku mau cerita semua yang kuingat sebelum memorinya memudar. Jadi, tulisan ini mungkin akan sedikit panjang ya ges.


Rasa-rasanya baru kemarin, kami khawatir akan ditanya saat kumpul keluarga, "kapan punya anak?". Aku sih tidak terbebani dengan basa-basi seperti itu. Cendi juga kelihatannya biasa aja. Bagi kami, bisa punya anak adalah suatu rejeki juga amanah yang besar. Kami suka membayangkannya begini, oh mungkin Tuhan menakar kami belum sanggup memiliki anak. Jadi fokus kami yah hanya memperbaiki diri aja dan menjaga asupan gizi. Toh, hidup bersama dan ditemani satu sama lain, sudah cukup menggembirakan rasanya. Kami juga ga merasa kurang apapun.

Rasa-rasanya baru kemarin, kali ini Cendi merasa sudah perlu mengecek fertilitas kami berdua. Seberapa besar sih peluang kami punya anak? Kami memutuskan pengecekan dimulai dari Cendi dulu. Aku masih ingat, Cendi jemput aku di kantor dan kita sama-sama mengecek ke obgyn di daerah Jakarta Timur. Di sana, Cendi diperiksa melalui proses transvaginal dan didiagnosa berpotensi polycystoc ovary syndrome (pcos) alias sel telurnya kecil-kecil. Dokternya juga cerita, pcos ini bisa disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat.

Pulang dari sana, Cendi dikasih semacam obat yang harus diminum menjelang masa subur. Dokter pun meminta kami kembali lagi bulan depan untuk mengecek apakah respon obatnya ngaruh ke ukuran sel telur Cendi? Tapi, kami tidak pernah kembali. Ku tidak tahu persis alasannya kenapa. Cendi bilang, sebaiknya kami ikhtiar dulu perbaiki pola hidup sehat. Makan gizi seimbang, banyak serat dan rajin bergerak.

Sebagai bentuk ikhtiar, kami pun berlangganan gym di daerah Jakarta Pusat, lokasinya berada di antara kantorku dan kantor Cendi, jadi kami bisa rutin menyempatkan nge gym sehabis pulang kantor. Kadang treadmil, kadang ikutan yoga, senam, renang dan macam-macam lah. Kami juga nyobain freediving, sebuah olahraga sekaligus meditasi. Hidup kami tiba-tiba menjadi sangat sporty!

Mumpung fisik lagi oke-okenya, kuajak Cendi buat ikut half marathon di Maybank Bali Marathon 2022. Kalau ada target yang tangible kan bisa lebih semangat. Cendi setuju, dia juga penasaran testing her limit sambil jalan-jalan di Bali. Bermodalkan semangat dan rutin jogging keliling komplek, kami berdua berhasil finish half marathon. Catatan waktuku dan Cendi cuma selisih 30 menit. Saya selesai 2.30 jam, Cendi menyelesaikannya tepat 3 jam. Sehabis itu, Cendi berjalan pincang tapi dengan wajah sumringah bangga.

Rasa-rasanya baru kemarin, aku minta ditemenin Cendi mengecek kesehatan sperma, karena mertuaku sudah nodong pertanyaan "kapan cek ke dokter lagi?" (kenapa yah orangtua kita sangat obsessive punya cucu?). Kami tes di Pramita Lab dekat rumah. Ku masih ingat sensasi masuk ke bilik pengambilan sampelnya yang mirip kamar hotel bintang 3. Ada TV kecil dengan pilihan video bokep yang terbatas dan tidak HD.

Rasa-rasanya baru kemarin, hari masih subuh, kudibangunin antara sadar ga sadar, Cendi ngebisikin "beb aku positif hamil". Mungkin responku waktu itu hanya 'alhamdulillah', tapi dalam hati rasanya campur aduk, perasaan gembira dan juga takut, bagaimana yah kami bisa mengemban amanah sebesar ini? Ku ingat memeluk Cendi sambil mengusap punggungnya. Sementara aku mencoba menata perasaanku.

Rasa-rasanya baru kemarin, kami bertemu di lobi rumah sakit untuk kunjungan dokter pertama. Dokter belum mau menyimpulkan kehamilan Cendi, yang pasti dinding rahimnya ada penebalan. Kami kalut tapi mencoba santai, apakah ini beneran hamil atau bukan.  Alhamdulillah, dikunjungan kedua dokter menyelamati kami atasa kehamilan Cendi. Saat itu, melalui USG terlihat tanda-tanda kehidupan Aruna. Aku selalu ingin hadir di sesi-sesi periksa rutin bulanan. Aku selalu senang mendengar denyut nadi Aruna. Di momen ini, kami banyak membekali diri kami dengan bacaan dan juga ikutan kelas-kelas mempersiapkan kelahiran. Kelas Cerita Lahir salah satu yang kami rekomendasikan.


Cendi trekking di week 1 kehamilan
Rasa-rasanya baru kemarin, kami gelisah karena sudah lewat 40 minggu, Cendi belum juga kontraksi. Dokter menyarankan untuk dilakukan induksi. Kami kurang sreg, bagi kami lahiran adalah proses alamiah, sehingga sebisa mungkin tanpa intervensi medis (kecuali bila memang ada kegawatdaruratan). Untungnya Cendi tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan, proses menjelang lahiran juga ditemani oleh doula, sehingga kami bisa excercise setiap opsi yang ada dan mencari provider yang pro lahiran normal. 

Hari-hari terasa sangat panjang menanti kelahiran Aruna. Seminggu sebelum Aruna lahir, kami beneran kurang tidur. Ku melihat Cendi yang tabah dan terus mengatur nafas hingga bukaan lengkap. Ku menyaksikan keikhlasan,  dedikasi, dan kerelaan Cendi berbagi hidup di sepanjang hayat hingga Aruna kemudian lahir menjelang subuh. Alhamdulillah. Di hari itu, kami bertiga lahir dengan peran yang baru.

Selamat datang Aruna.

Write a comment